Contoh Kasus Kepribadian Psicoanality

Standar

Saya mempunyai seorang teman dia berumur 19 tahun, dia berasal dari keluarga yang cukup kaya, apapun yang diinginkannya dicukupi oleh orang tuanya. Namun jika tidak dipenuhi maka dia mencari cara apapun untuk memenuhi keinginanya itu. Misalnya: dia ingin membeli handphone baru namun uangnya tidak cukup, maka dia berusaha untuk mencari kekurangan uang tersebut, meminjam kepada teman atau menjual barang yang dimiliki olehnya. Menurut saya dia mempunyai kepribadian yang cenderung menuntut pemuasan segera terhadap sesuatu yang dicapai jadi seseorang tersebut dikategorikan ke dalam struktur kejiwaan id.

Iklan

MODEL STRUKTUR MENTAL MENURUT FREUD

Standar

 

 Image

Life is not easy”, demikian kata Sigmund Freud (1856-1939) yang dikenal sebagai perancang mahzab atau teori Psikoanalisa (Psikodinamika kepribadian). Status internal manusia selalu diselimuti dengan kecemasan sebagai produk dari konflik antar struktur kepribadian yaitu Id, Ego, dan Super Ego. Kemudian termanives ke dalam perilaku kongkrit dalam mekanisme pertahanan diri atau mekanisme pertahanan ego (Ego Defense Mechanism).

            Sigmun freud dalam teori psikoanalisisnya mengemukakan model struktural kejiwaan yang berperan sebgai “aparatus mental.” Struktur tersebut terdiri atas id, ego, dan superego. Meskipun model struktural psikis Freud tersebut tidak termasuk dalam domain sains (bersifat filosofi), tetapi pemahamannya sangat penting untuk menjelaskan psikodinamika timbulnya perilaku berdasarkan faktor-faktor yang berhubungan dengan pembentukan mind set dan ekspresi perilaku manusia.

Id (Das Es) adalah bagian kepribadian yang tidak terorganisasi dan berperan sebagai dorongan insting dasar dan menganut prinsip kenikmatan (pleasure principle. Id berisi hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), libido seksualitas, termasuk juga instink-instink organisme.

Ego (Das Ich) bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle, yang bertujuan memuasakan dorongan id dengan cara yang realistik. Ego merupakan bagian terorganisasi dari struktur kepribadian yang mencakup mekanisme pertahanan mental, persepsi, fungsi kognitif-intelektual, dan fungsi eksekutif.

Super Ego (Das Ueber Ich) menganut prinsip kesempurnaan. adalah aspek sosiologis yang merupakan nilai-nilai tradisional sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya berupa perintah-larangan, ganjaran-hukuman, baik-buruk. Prinsip Super Ego adalah internalisasi norma-norma lingkungan yang berupaya untuk menekan dorongan Id.

MEKANISME PERTAHANAN MENTAL DALAM PSIKOANALISIS

Standar

Ego adalah mediator antara id dengan superego. Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego sehingga ego bertugas menjamin agar tuntutan id dan superego dapat dipuaskan sekaligus. Oleh karena itu, ego lebih mengutamakan struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Ego menggunakan reality principle untuk mengonsiliasi tuntutan id dan superego. Namun, kehidupan yang realistis tidak pernah sempurna. Apalagi dalam keadaan darurat tuntutan id terkadang harus segera dipenuhi, misalnya dalam ujian kesulitan, maka id-nya ingin berbuat kecurangan. Dorongan id untuk melakukan kecurangan segera berekspresi. Hal yang sama dengan kadar yang berbeda selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari karena kita dan environmental setting tidak sempurna. Setelah itu apa yang terjadi? Kita telah melakukan perilaku yang bertentangan dengan superego. Superego akan menghukum kita dengan perasaan bersalah atau ansietas yang bersifat disforik.
Untuk mengatasi persaan disforik ini, ego akan menggunakan mekanisme pertahanan mental. Mekanisme ini dilakukan secara tidak disadari penuh. Perasaan disforik berkurang karena dorongan, pikiran, dan persaan yang mneghukum tersebut diselubungi di alam bawah sadar, atau yang sangat disforik ditekan ke alam tak sadar sehingga tidak muncul ke alam sadar.
Struktur Mental dalam Model Topografi Freud

freud_iceberg1

Id adalah lautan biru yang tidak terdefinisi dengan jelas, egosentris, tidak terstruktur, berdasarkan pleasure principle, menuntut pemuasan segera, dan merupakan ekspresi biologis dorongan insting. Id berada sepenuhnya dalam alam tak sadar.
Superego sebagian berada dalam alam bawah sadar dan alam tak sadar, sebagian di alam sadar. Superego memperkuat ego dalam modifikasi id, tidak berdasarkan reality principle, tetapi berdasarkan inernalisasi nilai baik buruk sebagai hati nurani melalui nilai sosial budaya, agama dan pola asuh.
Ego sebagian berada di alam bawah sadar dan tidak sadar, sebagian di alam sadar yang merupakan puncak gunung es yang mengekspresikan pikiran, perasaan, dan perilaku kita.
Dari skema tersebut, kesimpulan dapat dibuat bahwa apa yang kita pikirkan, kita rasakan, dan kita ekspresikan sebagaian kecil dari struktur mental kita.

Pembagian struktur mental Freud dalam id, ego, dan superego didefinisikan dengan jelas pada pembagian model topografi yang terdiri atas alam sadar, bawah sadar, dan tak sadar yang memiliki keunggulan, yaitu sebagai berikut:
1. Meningkatakan derajat diversifikasi, karena menjelaskan bahwa id berada di domain alam tak sadar, sedangkan ego dan superego sebagian berada di alam sadar dan sebagian lagi di alam tak sadar.
2. Mekanisme pertahanan mental bekerja untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan perilaku.
3. Mekanisme timbulnya psikopatologi dapat dijelaskan sehingga klasifikasi gangguan mental dapat disusun secara sistematis.
Kegunaan mekanisme pertahanan mental adalah melindungi pikiran/ harga diri/ dan ego dari ansietas, sanksi sosial, atau sebagai “tempat pelarian” (refuge) dari situasi yang pada saat ini belum dapat kita atasi.
Sebagai fungsi ego, mekanisme pertahanan mental segera dimulai bila konflik timbul diantara beragam dorongan id yang tidak terorganisasi, atau bila konflik timbul antara dorongan id dengan nilai-nilai dan keyakinan dalam superego, atau bila timbul ancaman dunia luar terhadap ego.
Untuk melaksanakan fungsi ini, ego sebagai fungsi penalaran yang menganut reality principle harus menggunakan mekanisme sistematis yang merupakan proses primer dan proses sekunder.
Pelampiasan dorongan id tanpa modifikasi selalu menimbulkan konflik dalam masyarakat yang beradab. Karena itu, lingkungan sosial budaya menuntut agar prinsip kenikmatan (pleasure principle) diubah menjadi prinsip realitas yang menyesuaikan metode pemuasan dorongan tersebut dengan nilai-nilai sosial-budaya dan peradaban.
Dua proses selalu berlangsung dalam ego sebagai berikut.
1. Proses primer tidak disadari. Pikiran tidak terorganisasi, perasaan berubah-ubah, dan beragam konflik tidak dianggap sebagai konflik. Proses tersebut tidak mengikuti kaidah logika. Nafsu merupakan faktor terpenting dalam proses ini.
2. Proses sekunder disadari. Pikiran disusun secara koheren. Pikiran yang tidak menyenangkan ditekan ke alam bawah sadar. Semua pikiran-pikiran yang tidak disadari merupakan hasil proses sekunder.
KLASIFIKASI MEKANISME PERTAHANAN MENTAL
Cara ego memilih mekanisme pertahanan mental yang akan digunakan secara efisien dan efektif ditentukan oleh maturitas kepribadian dan juga dipengaruhi tingkat kecerdasan, maturitas, dan wawasan individu yang berkaitan dengan fungsi luhur (higher cortical function) dari korteks prefrontalis. Mekanisme pertahanan mental dapat diklasifikasikan dalam mekanisme yang imatur (tidak matang) dan matur (matang). Berdasarkan imaturitas dan maturitas tersebut, mekanisme pertahanan mental dapat diklasifikasikan dalam mekanisme pertahanan mental level 1 (paling imatur) sampai level 4 (paling matur).
Mekanisme pertahanan mental tingkat 1(narsisitik yaitu dorongan libido ditujukan ke dalam diri sendiri sehingga memungkinkan seseorang secara efektif merekayasa presepsinya terhadap pengalaman eksternal sesuai dorongan internalnya).
a. Penyangkalan: penolakan menerima realitas dunia luar karena dipresepsi terlalu menakutkan atau mengancam.
b. Distoris: realitas eksternal dikaburkan untuk memenuhi keinginan internal.
c. Idealisasi primitif: objek ekstrem “baik total” atau “buruk total”
d. Projeksi: dorongan internal dan deviratnya yang tidak dapat diterima dipresepsikan seolah-olah tidak pernah timbul dalam diri kita dan dilimpahkan ke orang lain.
e. Identifikasi projeksi: aspek-aspek diri yang tidak dikehendaki “dibuang” ke orang lain sehingga individu yang melakukan projeksi tersebut merasa menjadi satu dengan objek projeksinya.
f. Splitting: objek eksternal dibagi dalam dua kategori ekstrem, yaitu “baik total” atau “buruk total” yang diikuti perubahan tiba-tiba dari satu kategori ekstrem ke ekstrem lain terhadap objek yang sama.
Contoh: seseorang yang menilai sesuatu sebagai kategori baik tiba-tiba berubah menjadi kategori buruk.

Mekanisme pertahanan mental tingkat 2 (imatur)
1. Fantasi: kecenderungan untuk lari ke fantasi dalam menyelesaikan konflik di daram diri (internal) dan di dunia luar (eksternal).
2. Projeksi: bentuk primitif paranoia. Dorongan agresif, prasangka, cemburu, benci, ketakutan terhadap bahaya eksternal, dan perasaan diperlakukan tidak adil dalam diri diekspresikan ke dunia luar tanpa disadari, dengan cara melimpahkan semua hal negatif tersebut ke orang lain sehingga kita mempersepsikan bahwa orang lain, dan bukan kita yang memiliki semua hal negatif tersebut.
3. Hipokondriasis: transformasi perasaan negatif kepada oarang lain menjadi perasaan negatif kepada diri sendiri, nyeri, penyakit, dan ansietas. Contoh klasik, seseorang akan merasa mual ketika melihat kelakuan orang lain yang buruk.
4. Pasif-agresif: mengekspresikan agresivitas kepada orang lain secara tidak langsung atau secara pasif.
5. Acting out: ekspresi langsung keinginan dan dorongan yang tidak disadari tanpa menyadari emosi atau menghindari afek yang mendorong atau menyertai perilaku ekspresif ini.
6. Idealisasi: mempersepsi bahwa seseorang memiliki kualitas positif dalam kadar yang lebih tinggi dari kualitas positif aktual orang tersebut.
7. Identifikasi: yang berperan menentukan pada perkembangan ego dapat digunakan sebagai mekanisme pertahanan mental.
8. Introjeksi: internalisasi seluruh kualitas orang lain yang menjadi objek cinta menjadi kualitas diri sendiri sehingga seolah-olah telah menjadi bagian integral dari diri sendiri, termasuk semua kekurangan dan kelebihannya.
9. Regresi: perubahan sementara ego kembali ke tingkat perkembangan yang lebih awal untuk menghindari atau mengatasi dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima dengan cara yang sesuai dengan tingkat maturitas perkembangan.
10. Somatisasi: upaya mengatasi dorongan insting diubah menjadi gejala somatik sehingga individu bereaksi terhadap gejala somatik tersebut, dan bukan terhadap aspek-aspek psikis.
Kesepuluh mekanisme pertahanan mental imatur tersebut masih dijumpai pada orang dewasa, dan sering terdapat pada remaja dewasa. Individu yang menggunakan mekanisme ini secara berlebihan dapat mengalami gangguan pada interaksi sosialnya karena cenderung tidak objektif, penuh prasangka, bersifat skizoid sehingga sulit berinteraksi dengan orang lain. Mekanisme ini adalah dasar depresi, gangguan kepribadian dan kecenderungan paranoid. Pada remaja dewasa, mekanisme tersebut masih normal atau dapat ditoleransi.
Mekanisme pertahanan mental tingkat 3 (neurotik)
1. Displacement: mekanisme yang mengubah sasaran dorongan seksual atau agresivitas ke sasaran lain yang lebih diterima atau kurang berbahaya, mengarahkan ekspresi emosional kesasaran yang lebih aman dalam upaya menghindari konflik langsung dengan orang atau objek yang lebih berbahaya.
2. Disosiasi: modifikasi identitas personal atau karakter secara drastis untuk sementara dalam upaya menghindari distres emosional.
3. Isolasi: pemisahan perasaan dari ide-ide dan peristiwa.
4. Intelektualisasi: suatu bentuk isolasi yang berkonsentrasi pada komponen intelektual dari suatu situasi sehingga memungkinkan seseorang yang menghadapi situasi tersebut untuk memisahkan dirinya dari emosi yang mencetuskan ansietas yang ditimbulkan. Contoh: seseorang bersikap tidak sopan kepada kita, tetapi kita tidak marah karena kita berpikir mungkin ia tidak dididik oleh orang tuanya dengan baik.
5. Reaksi formasi: mengubah keinginan dan dorongan tidak disadari yang dianggap berbahaya menjadi sesuatu yang berlawanan sehingga individu tersebut berperilaku berlawanan secara diametral dari apa yang sebenarnya diinginkan atau dirasakannya.
6. Represi: proses menekan pikiran yang memberi emosi tidak menyenangkan ke alam tidak sadar atau mencegah masuknya pikiran tersebut ke alam sadar sehingga emosi disforik tersebut disadari secara tersamar, tetapi pikiran yang menimbulkan emosi tersebut tidak disadari.
7. Inhibisi: terjadi pembatasan atau penghentian fungsi ego secara sadar, baik pada fungsi tunggal maupun beragam fungsi sekaligus dalam upaya menghindari ansietas yang timbul akibat konflik antara berbagai dorongan insting, superego, dan kekuatan atau figur ekternal.
8. Rasionalisasi: penjelasan rasional yang diajukan seseorang dalam upaya membenarkan sikap, keyakinan, atau perilaku yang dianggapnya sendiri tidak dapat diterima, yang motivasi dasarnya ditentukan dorongan insting.
9. Pengendalian (controling): upaya berlebihan untuk mengelola atau meregulasi suatu peristiwa atau objek untuk meminimalkan ansietas dan menyelesaikan konflik internal.
10. Eksternalisasi: kecenderungan untuk mempersepsi di dunia luar dan objek eksternal unsur-unsur dari kepribadian diri, termasuk dorongan insting, konflik, sikap, mood, dan model berpikir, terutama pada objek eksternalyang dikagumi, dihargai atau takuti.
11. Seksualisasi: suatu objek atau fungsi dianggap memiliki makna seksual yang sebenarnya tidak dimiliki atau bila dimiliki.
Mekanisme mental tersebut merupakan mekanisme neurotik yabg dijumpai pada orang dewasa. Penggunaan jangka pendek sebagai mekanisme penyelesaian masalah cukup efektif untuk mengatasi tantangan eksternal dan konflik internal. Namun, bila digunakan dalam jangka panjang sebagai mekanisme penyelesaian masalah utama terhadap tantangan dunia luar, dapat menimbulkan persaan disforik karena mnimbulkan kendala hubungan antarpersonal (termasuk di dalam keluarga).

Mekanisme pertahanan tingkat 4 ( matur)
Mekanisme ini ditemukan pada orang dewasa yang telah matang secara emosional dan kognitif.
1. Altruisme: mencapai kepuasan personal melalui perilaku insting konstruktif untuk orang lain.
2. Antisipasi: antisipasi atau perencanaan realistik ketika seseorang selalu mengantisipasi baik keberhasilan atau kegagalan, dan secara kognitif siap dengan pilihan penanganan terhadap kegagalan, dan secara emosional siap untuk menghadapi afek disforik dari kegagalan perencanaan.
3. Asketisme: pola pikir dan perilaku asketik ketika efek menyenangkan yang umumnya bersifat banal dari perilaku tersebut dihilangkan. Dasarnya adalah unsur moralistik pada penilaian suatu kenikmatan spesifik.
4. Humor: mengekspresikan ide-ide dan perasaan atau mengerikan ke orang lain dengan cara yang menyenangkan orang lain dan diri sendir, bukan melucu, tetapi ide-ide tersebut tetap dipahami sebagaimana adanya.
5. Sublimasi: mencapai pemuasan dengan tujuan yang sama melalui perubahan dorongan insting atau emosi negatif menjadi perilaku positif.
6. Supresi: keputusan yang disadari atau di bawah sadar untuk menangguhkan perhatian terhadap dorongan atau konflik yang disadari dalam upaya penyelesaian masalah terhadap realitas.
Penggunaan mekanisme ini membantu integritas emosional yang sebelumnya sedang berkonflik dan pikiran-pikiran secara efektif sehingga meningkatakan kenikmatan dan kemampuan menguasai kehidupan.

http://indonesiaindonesia.com/f/76497-mekanisme-pertahanan-ego-psikoanalisa-sigmund-freud/
Nurdin, A. E. (2009). Tumbuh Kembang Perilaku Manusia. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.